Stuw Ngloewak
Dalam sejarah Solo Vallei, Ngloewak menempati posisi yang sangat penting. Jika Bengawan Jero menunjukkan mengapa drainase diperlukan, dan muara Bengawan Solo menjelaskan hubungan antara sedimen dan pelayaran Surabaya, maka Ngloewak adalah tempat rencana itu mulai mengambil bentuk teknis.
Di sinilah air Bengawan Solo direncanakan akan dinaikkan, dikendalikan, dan dimasukkan ke saluran utama. Dengan kata lain, Ngloewak adalah titik tempat gagasan besar Solo Vallei berubah dari persoalan wilayah menjadi rancangan bangunan air.
Rencana di Ngloewak tidak sederhana. Yang dibayangkan bukan bendung kecil untuk satu daerah irigasi, tetapi sebuah stuw besar di Bengawan Solo, lengkap dengan inlaatsluis atau pintu pengambilan air, saluran utama, pekerjaan pengendalian sedimen, fasilitas konstruksi, transportasi batu, rel kerja, gudang, bengkel, dan kompleks pekerjaan yang luas. Stuw adalah bendung yang berfungsi untuk menaikkan muka air. Tujuannya bukan selalu membuat waduk besar, melainkan mengangkat muka air agar dapat dialirkan ke saluran.
Karena itu, untuk memahami Solo Vallei sebagai proyek teknik, Ngloewak harus dibaca sebagai salah satu titik kunci.
Mengapa Ngloewak Dipilih
Pemilihan Ngloewak tidak terjadi sejak awal. Dalam rancangan awal tahun 1881, titik pembendungan Bengawan Solo semula dipikirkan di Nglabak, lebih dari 100 km di hilir Ngloewak. Dengan titik itu, wilayah yang dapat diairi diperkirakan sekitar 120.000 bouw. Namun rencana ini kemudian menghadapi persoalan. Anak-anak sungai di sisi kanan Bengawan Solo yang semula dibayangkan dapat membantu mengairi lahan yang lebih tinggi ternyata tidak memiliki debit yang mencukupi. Karena itu, titik pengambilan air harus dicari lebih ke hulu. Pilihan kemudian mengerucut antara Ngloewak dan Kali Tidoe, yang terletak sekitar 50 km di hilir Ngloewak.
Pertimbangan utama adalah elevasi. Semakin tinggi titik pengambilan air, semakin besar wilayah yang dapat diairi secara gravitasi. Namun semakin tinggi titik itu, semakin panjang pula saluran utama yang harus dibangun dan semakin besar biaya yang harus ditanggung. Ngloewak akhirnya menjadi penting karena letaknya memungkinkan air Bengawan Solo dinaikkan sebelum memasuki dataran hilir yang luas.
Stuw dan Inlaatsluis sebagai Jantung Rencana
Dalam perhitungan biaya, bangunan di titik pengambilan air disebut sebagai stuw dengan inlaatsluis. Menariknya, biaya stuw dan inlaatsluis tidak menjadi komponen terbesar. Dalam uraian teknis, biaya saluran sekunder diperkirakan sekitar tiga kali biaya stuw dan inlaatsluis, sedangkan biaya saluran utama beserta bangunan-bangunannya sekitar delapan kali biaya stuw dan inlaatsluis. Ini menunjukkan bahwa walaupun stuw Ngloewak sangat penting secara fungsi, beban terbesar proyek justru berada pada jaringan saluran yang harus membawa air jauh ke wilayah hilir.
Namun secara teknis, stuw Ngloewak tetap menjadi bangunan penentu. Tanpa stuw, muka air Bengawan Solo tidak cukup tinggi untuk masuk ke saluran utama. Tanpa inlaatsluis, air tidak dapat diatur. Tanpa bangunan pembilas dan pengendalian sedimen, saluran berisiko cepat terisi pasir dan lumpur.
Karena itu, stuw Ngloewak dapat disebut sebagai jantung rencana pengambilan air Solo Vallei.
Rancangan Stuw yang Diperdebatkan
Rancangan stuw Ngloewak ternyata menjadi bahan perdebatan teknis. Dalam De Ingenieur 1900, terdapat bagian khusus berjudul “De kunstwerken voor de opstuwing te Ngloewak”. Bagian ini menjelaskan bahwa konstruksi stuwdam di Ngloewak telah beberapa kali dibahas secara teliti. Pada tahun 1898, De Meyier mengemukakan keberatan terhadap rancangan stuw yang telah diotorisasi dan disebut sudah berada dalam tahap pelaksanaan. Keberatan itu kemudian dijawab oleh insinyur Van Goor. Keberatan lain yang muncul dalam sidang parlemen juga kembali dibantah oleh Van Goor pada tahun berikutnya.
Perdebatan ini penting karena menunjukkan bahwa stuw Ngloewak bukan rancangan biasa. Skala dan bentuknya dianggap cukup baru sehingga memancing pertanyaan: apakah bangunan seperti itu dapat aman dibangun di dasar sungai Bengawan Solo? Apakah bentuk stuwnya tepat? Apakah energi air dapat dikendalikan? Apakah fondasinya cukup kuat? Apakah biaya dan perawatannya masuk akal?
Komisi yang menilai rencana tersebut akhirnya menyatakan bahwa rancangan Van Goor pada prinsipnya baik dan layak, meskipun tetap diperlukan beberapa perubahan kecil yang tidak mengubah asas utama desain.
Tiga Pilihan Bentuk Stuw
Pilihan pertama adalah membagi opstuwing ke dalam tiga tingkat dengan tiga stuwdam. Secara prinsip, gagasan ini masuk akal karena energi air tidak dijatuhkan dalam satu bangunan, tetapi dibagi ke beberapa tingkat. Namun gagasan ini ditinggalkan karena hanya satu dari tiga stuwdam yang dapat dibangun di atas lapisan krapak, sedangkan dua lainnya harus didirikan di atas tanah yang tidak cukup padat dan sangat mudah dilalui air.
Pilihan kedua adalah membuat bendung dengan bentuk stortmuur, yaitu dinding bendung yang hampir tegak. Pada tipe ini air jatuh dengan kecepatan besar ke bagian hilir. Masalahnya, dasar sungai di Ngloewak bukan batuan keras. Jika air jatuh langsung dengan energi besar, diperlukan lantai hilir atau kolam peredam yang berat, panjang, dan mahal untuk mencegah gerusan.
Pilihan ketiga adalah bentuk yang akhirnya lebih diterima: stuwdam dengan bidang atas miring. Pada bentuk ini, air tidak jatuh tegak, tetapi meluncur di atas bidang miring. Energinya dikurangi secara bertahap, lalu dicampurkan dengan massa air di bagian hilir. Prinsip inilah yang dikembangkan dalam rancangan Van Goor.
Prinsip Bidang Miring
Gagasan utama rancangan Van Goor adalah menghindari jatuhan air yang terlalu keras. Pada bendung dengan jatuhan vertikal, air menghantam dasar hilir dengan energi besar. Jika dasar bukan batu, gerusan dapat menjadi masalah serius.
Pada rancangan bidang miring, air diarahkan untuk meluncur. Bagian kaki bangunan ditempatkan cukup dalam sehingga di hilir masih terdapat massa air yang besar. Air yang turun dari bidang miring akan bercampur dengan massa air itu, sehingga kecepatan dan energinya berkurang sebelum merusak dasar sungai. Prinsip ini juga disebut dalam uraian tentang beberapa contoh stuw kecil yang digunakan untuk menilai kemungkinan kerja rancangan Ngloewak.
Dalam pembahasan itu, beberapa bendung lain yang lebih kecil dipakai sebagai perbandingan. Walaupun ukurannya tidak sebanding dengan rencana Ngloewak, contoh-contoh tersebut dianggap memberi keyakinan bahwa prinsip bidang miring dapat bekerja dengan baik. Rancangan Van Goor kemudian dipandang sebagai bentuk yang logis, lebih murah dalam pembangunan dan pemeliharaan dibanding bendung jatuh tegak, serta layak diterapkan untuk kondisi Bengawan Solo.
Ukuran dan Tantangan Utama Stuw Ngloewak
Skala stuw Ngloewak sangat besar untuk masanya. Komisi menyebut rancangan itu sebagai persoalan opstuwing yang dalam bentuk dan ukurannya belum pernah menjadi masalah serupa di tempat lain. Stuwdam direncanakan memiliki lebar sekitar 200 meter. Dalam keadaan tidak menguntungkan, bangunan itu harus mampu melewatkan lembar air setebal sekitar 4,50 meter di atas mercu. Mercu stuw atau stuwkruin berada sekitar 12,50 meter di atas muka air terendah.
Angka-angka ini menjelaskan mengapa stuw Ngloewak menjadi bahan perdebatan. Perbedaan antara muka air rendah dan mercu sangat besar. Debit banjir yang harus dilalui juga besar. Bangunan harus cukup kuat untuk menahan gaya air, cukup aman terhadap gerusan, dan cukup baik untuk mengatur aliran ke saluran utama.
Dalam pandangan Komisi, rancangan Van Goor berhasil menjawab persoalan itu secara memuaskan. Bahkan keputusan Komisi dianggap lebih luas maknanya: ia menjadi pengakuan bahwa bentuk bidang miring memiliki hak teknis yang kuat untuk mengatasi perbedaan tinggi air yang besar.
Situasi Lokasi dan Masalah Aliran
Lokasi stuw Ngloewak juga tidak sepenuhnya ideal. Dalam pembahasan situasi, disebut bahwa arah aliran di sekitar lokasi dipengaruhi bentuk sungai dan tikungan. Ada persoalan karena bentuk kom air di atas stuw tidak sepenuhnya teratur, sehingga aliran menuju mercu berpotensi tidak merata.
Untuk memperbaiki keadaan itu, diusulkan sebuah dam tambahan yang dapat membuat ruang di antara dam dan penutup tanah mengalami pengendapan. Dengan pengendapan itu, bentuk kom air di atas stuw diharapkan menjadi lebih teratur, sehingga air dapat melimpas lebih merata di sepanjang mercu stuw.
Di bagian hilir, arah doorgraving atau alur setelah stuw juga dinilai kurang menguntungkan karena adanya tikungan sungai tajam sekitar 1 km di bawah bangunan. Di dekat dan di bawah muara alur, tepi kiri sungai diperkirakan akan diserang arus. Risiko ini sudah diperhitungkan dalam estimasi biaya pembebasan tanah.
Keterangan ini memperlihatkan bahwa desain stuw tidak hanya menyangkut bentuk bangunan. Posisi terhadap tikungan sungai, arah arus, potensi pengendapan, dan gerusan tepi juga harus diperhitungkan.
Tahap Penutupan Sungai dan Koker Sementara
Pelaksanaan stuw sebesar Ngloewak memerlukan tahapan konstruksi yang rumit. Salah satu persoalan penting adalah bagaimana menutup aliran sungai sementara pekerjaan berlangsung.
Dalam uraian teknis, disebut perlunya houten kokers atau koker kayu dengan luas penampang tidak kurang dari 20 m². Koker ini harus sangat kuat karena harus menahan tekanan tanah yang besar. Koker juga harus dapat ditutup dengan klep atau schuif, dan perlindungan terhadap aliran di bawah serta di belakang bangunan harus diperhatikan dengan serius. Dasar sungai perlu diratakan dan disesuaikan agar aliran dapat masuk ke koker secara bertahap dan aman.
Bagian ini menunjukkan bahwa pekerjaan stuw tidak dimulai langsung dengan membangun tubuh bendung. Sebelum itu, aliran sungai harus diatur, dialihkan sementara, dan dikendalikan agar pekerjaan pada dasar sungai dapat dilakukan.
Ngloewak sebagai Kompleks Konstruksi
Walaupun stuw utama belum dapat dinyatakan selesai, dokumen menunjukkan bahwa Ngloewak sudah berkembang menjadi kompleks pekerjaan besar. Di sana tinggal kepala seksi keenam, dan telah dibangun rumah insinyur, 18 rumah opzichter, kantor seksi dengan ruang kas, dua kantor afdeling, gudang seksi, gudang dinamit, tempat penyimpanan bahan mudah terbakar, bengkel seluas 394 m², serta fasilitas kesehatan dengan apotek.
Kompleks itu juga memiliki loods seluas 296 m² berisi kogelmolen dan locomobile, pompa untuk penyediaan air tawar, tempat penggergajian kayu bakar, oven kapur sistem kontinu, loods pemadaman kapur seluas 210 m², gudang berlantai kayu seluas 750 m², gudang besar seluas 1.305 m², empat gudang berpasangan masing-masing 520 m², gudang semen seluas 225 m², rumah pekerja, remise lokomotif, dan rumah telepon.
Selain itu, telah dibangun instalasi penyaringan air sungai dan pemompaan air bersih ke reservoir tinggi, dengan jaringan pipa lebih dari 2 km, serta dua oven semen. Di Ngloewak juga terdapat salah satu dari dua pabrik batu bata besar untuk kebutuhan pekerjaan Solo Vallei.
Keterangan ini sangat penting. Ia menunjukkan bahwa sebelum stuw berdiri, negara kolonial telah membangun infrastruktur proyek yang lengkap. Ngloewak menjadi basis logistik, administrasi, material, dan tenaga kerja untuk pekerjaan besar Solo Vallei.
Alat Berat untuk Pekerjaan Solo Vallei
Salah satu bukti bahwa Solo Vallei telah memasuki tahap persiapan konstruksi besar adalah keberadaan arsip foto Heuvel-Excavateur yang dibuat oleh Firma De Jongh & Co. di Oudewater atas rekening Departemen Koloni. Pada keterangan foto tertulis bahwa alat ini dibuat “ten behoeve der Werken in de Solo-Vallei”, yaitu untuk keperluan pekerjaan Solo Vallei di Hindia Belanda.
Alat ini dirancang untuk harde grondsoorten, atau jenis tanah keras. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan Solo Vallei tidak hanya dibayangkan sebagai penggalian saluran tanah lunak, tetapi juga mencakup pekerjaan tanah berat yang memerlukan mesin khusus. Keberadaan excavateur ini memperkuat bahwa proyek telah bergerak jauh melampaui tahap gagasan: alat sudah dirancang, dibuat, dan disiapkan untuk pekerjaan lapangan.
Batu, Perahu, dan Transportkabel
Pekerjaan stuw membutuhkan batu dalam jumlah besar. Batu alam yang cocok tersedia di Banjoe-oerip, sekitar 26,5 km di hulu Ngloewak jika diukur sepanjang sungai. Pada awalnya, batu direncanakan diangkut dengan perahu. Batu dikumpulkan di tepi sungai, dimasukkan ke perahu, lalu ditarik dengan kapal uap khusus yang dikirim dari Eropa.
Namun rencana ini menghadapi hambatan. Dalam laporan Desember 1895, kepala pekerjaan menyatakan bahwa untuk mengangkut batu dalam waktu yang diinginkan dibutuhkan setidaknya 200 perahu. Pada akhirnya, hanya 86 perahu yang berhasil tersedia. Selain itu, pelayaran Bengawan Solo telah lama menurun, sehingga sulit mendapatkan awak perahu yang cukup terampil.
Karena hambatan itu, dipertimbangkan cara lain: transportkabel. Sistem ini dirancang untuk menghubungkan Banjoe-oerip dengan Keloran, titik di bawah Ngloewak yang terhubung dengan workspoor. Panjang kabel mencapai 10 km dan bertumpu pada 80 titik penyangga. Di kedua ujungnya disiapkan fasilitas besar untuk memuat dan membongkar batu. Pekerjaan ini hampir siap digunakan menjelang penangguhan proyek, tetapi pengangkutan batu melalui kabel itu belum sempat berlangsung dalam volume besar.
Data ini memberi gambaran jelas tentang tahap pekerjaan di Ngloewak. Meskipun stuw utama belum selesai, persiapan material dan sistem angkutnya sudah dirancang dan dibangun dalam skala besar.
Rel Kerja dan Dermaga Sungai
Di tepi Bengawan Solo, dibuat tempat pendaratan untuk membongkar steenprauwen, yaitu perahu pengangkut batu. Di lokasi itu dipasang dua crane uap dan beberapa crane tangan. Semua bagian kompleks Ngloewak dihubungkan dengan jalur rel internal dan workspoor.
Sistem rel kerja ini menjadi bagian penting dari konstruksi. Tanpa rel, pemindahan batu, kapur, semen, kayu, dan alat berat akan sangat lambat. Pada masa itu, jalan darat belum dapat menggantikan fungsi rel kerja di lokasi proyek besar. Karena itu, pekerjaan Solo Vallei memerlukan gabungan transportasi sungai, rel kerja, perahu, crane, dan kabel.
Ngloewak dengan demikian bukan hanya lokasi bendung. Ia menjadi pusat sistem konstruksi yang menghubungkan sungai, hutan batu, gudang, pabrik material, dan lokasi pekerjaan.
Pabrik Batu Bata dan Bahan Bangunan
Penggunaan batu bata dianggap penting, terutama untuk melengkungkan atau membangun bagian-bagian seperti siphon. Karena itu, untuk pekerjaan Solo Vallei didirikan dua pabrik batu bata besar. Salah satunya berada di Ngloewak dan sudah selesai dibangun. Pabrik-pabrik itu disiapkan dengan mesin pembentuk, sistem pembakaran, bangunan pengering, dan oven batu bata.
Pendirian pabrik batu bata menunjukkan bahwa pekerjaan Solo Vallei tidak hanya bergantung pada bahan yang dibeli dari luar. Proyek ini menyiapkan produksi material sendiri di lapangan. Ini masuk akal, karena volume pekerjaan sangat besar dan lokasi-lokasi proyek tidak mudah dilayani oleh pasokan biasa.
Dalam sejarah infrastruktur kolonial, fasilitas seperti ini menunjukkan bahwa rencana Solo Vallei sudah memasuki tahap yang lebih maju daripada sekadar survei. Proyek sudah memerlukan industri kecil di lokasi kerja.
Apakah Stuw Ngloewak Sudah Selesai?
Pertanyaan ini penting. Dari dokumen yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa rencana teknis stuw Ngloewak sudah ada, telah diotorisasi, dan disebut sudah berada dalam tahap pelaksanaan. Namun tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa stuw utama Ngloewak telah selesai dibangun dan berfungsi.
Yang tercatat dengan jelas adalah pekerjaan persiapan dan fasilitas pendukung: kompleks kantor dan rumah, bengkel, gudang, pabrik batu bata, oven semen, sistem air bersih, dermaga sungai, crane, workspoor, perahu pengangkut batu, dan transportkabel. Dengan kata lain, Ngloewak sudah menjadi basis konstruksi utama, tetapi pekerjaan inti berupa stuw utama belum dapat dipastikan selesai.
Penangguhan pekerjaan Solo Vallei pada tahun 1898 membuat keadaan itu semakin jelas. Banyak fasilitas sudah disiapkan, tetapi pekerjaan besar tidak berlanjut sebagaimana direncanakan. Workspoor yang akan diperpanjang juga dihentikan sementara pada tahun 1898.
Pada foto drone kawasan Ngloewak, tampak pola lahan memanjang yang tidak sepenuhnya mengikuti pola sawah maupun permukiman. Ketika dibandingkan dengan gambar situasi Stuw Ngloewak dalam arsip Solo Vallei, pola tersebut menunjukkan kemiripan bentuk dan orientasi. Hal ini membuka kemungkinan bahwa sebagian trase pekerjaan tanah, saluran pengarah, atau area persiapan konstruksi Stuw Ngloewak masih dapat dibaca dalam morfologi lahan saat ini. Meskipun demikian, interpretasi ini perlu diperlakukan sebagai indikasi awal yang harus diperkuat melalui georeferensi peta lama, survei lapangan, dan pemeriksaan bukti fisik di lokasi.
Dampak terhadap Pelayaran Sungai
Rencana stuw dan jaringan saluran juga terkait dengan pelayaran. Jika alur sungai berubah atau dibendung, perahu dan rakit harus melewati sistem pengganti. Dalam salah satu uraian, dari saluran utama ke sungai terdapat 13 sluizen yang harus dilalui, termasuk satu dengan tiga kolam pengunci. Itu berarti 15 kali schutting atau proses penguncian air, dengan beda tinggi antara 3,00 m dan 0,50 m. Jika dihitung dari sungai di atas Ngloewak pada musim timur ketika stuwsluizen tertutup, kapal harus melewati total sekitar 20 schuttingen untuk kembali ke sungai di bawah Wringin Anom.
Angka ini menunjukkan bahwa rencana Solo Vallei tidak hanya memindahkan air, tetapi juga mengubah hubungan manusia dengan sungai sebagai jalur transportasi. Pelayaran tradisional, rakit kayu, dan perahu niaga harus menyesuaikan diri dengan sistem bangunan air yang baru.
Di sinilah kerumitan rencana Solo Vallei tampak jelas. Satu keputusan di Ngloewak berpengaruh pada saluran irigasi, pengendalian sedimen, transport material, pelayaran sungai, dan biaya pemeliharaan.
Mengapa Stuw Ngloewak Penting dalam Sejarah Solo Vallei
Stuw Ngloewak penting karena ia merupakan titik teknis tempat seluruh gagasan Solo Vallei bergantung. Jika stuw berhasil, air Bengawan Solo dapat dinaikkan dan dialirkan ke saluran utama. Jika stuw gagal, sistem pengairan besar yang direncanakan tidak dapat bekerja sebagaimana dibayangkan.
Ngloewak juga penting karena memperlihatkan skala ambisi proyek. Bangunan yang direncanakan memiliki lebar sekitar 200 m, mercu sekitar 12,50 m di atas muka air terendah, dan harus mampu melewatkan limpasan besar di atas mercu. Untuk mendukungnya, dibangun kompleks kerja yang luas, sistem rel, fasilitas material, transport kabel, gudang, bengkel, dan perumahan personel.
Dalam sejarah teknik, Ngloewak juga penting karena rancangan stuw bidang miring Van Goor dipandang sebagai jawaban terhadap masalah bendung besar di dasar yang bukan batuan keras. Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa para insinyur kolonial sedang menghadapi persoalan yang tidak biasa untuk ukuran waktu itu.
Stuw Ngloewak direncanakan sebagai bangunan utama untuk menaikkan muka air Bengawan Solo dan memasukkannya ke saluran utama Solo Vallei. Rancangan awal pengambilan air pernah dipikirkan di Nglabak pada tahun 1881, lebih dari 100 km di hilir Ngloewak, tetapi kemudian titik pengambilan dipindahkan lebih ke hulu karena debit anak-anak sungai tidak mencukupi.
Rancangan stuw Ngloewak yang dikembangkan Van Goor menggunakan prinsip bidang miring atau storthelling, bukan jatuhan tegak. Stuw itu direncanakan memiliki lebar sekitar 200 m, melewatkan air setebal sekitar 4,50 m di atas mercu dalam keadaan tidak menguntungkan, dan memiliki mercu sekitar 12,50 m di atas muka air terendah.Stuw Ngloewak memperlihatkan perubahan Solo Vallei dari gagasan tata air menjadi proyek teknik besar. Di tempat ini, air Bengawan Solo direncanakan akan diangkat, disaring dari gangguan sedimen, diatur melalui pintu air, lalu dialirkan ke saluran utama. Namun Ngloewak juga menunjukkan beratnya proyek itu. Untuk membangun satu stuw saja diperlukan rancangan baru, perdebatan teknik, ribuan meter kubik material, rel kerja, transport kabel, pabrik batu bata, gudang, bengkel, perumahan, dan sistem logistik yang luas. Dengan demikian, Ngloewak bukan hanya lokasi bendung. Ia adalah gambaran nyata skala ambisi Solo Vallei.
Penutup
Stuw Ngloewak adalah salah satu bagian paling konkret dari sejarah Solo Vallei. Di sinilah air Bengawan Solo hendak dijadikan sumber pengairan besar bagi wilayah hilir. Rancangannya memperlihatkan kemampuan teknik yang berani untuk zamannya, tetapi juga memperlihatkan betapa sulitnya mengubah sungai besar menjadi sistem yang dapat dikendalikan.
Pekerjaan persiapan di Ngloewak sudah jauh berjalan. Kompleks konstruksi dibangun. Material disiapkan. Jalur rel, perahu, crane, pabrik batu bata, gudang, dan transport kabel telah masuk ke dalam sistem kerja. Tetapi stuw utama belum dapat dipastikan selesai. Ketika pekerjaan besar Solo Vallei ditangguhkan, Ngloewak menjadi salah satu jejak paling jelas dari rencana besar yang sudah hampir memasuki tahap konstruksi utama, tetapi belum sempat menjadi sistem pengairan yang bekerja penuh.
Awal Gagasan Solo Vallei
Bagaimana gagasan awal pengairan Solo Vallei muncul pada masa Hindia Belanda? Mengapa Bengawan Solo dan Kali Pacal mulai dibayangkan sebagai sumber air untuk mengubah lembah hilir?